Karena hidup tidak hanya menarik nafas, tetapi juga menarik makna di balik fakta...

.
Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Wednesday, February 8, 2012

Today I'm cooking

Today, I'm cooking. Kalau anda berharap cerita ini berakhir dengan kebakaran dapur, sorry dude :)

Simple sih, pengen makan yg manis-manis gitu awalnya. Lihat ada sachet nutrijelly rasa strawberry dan melon nonkrong. Baca petunjuknya (Dulunya sih suka bikin, cuman gue punya penyakit yaitu bekerja sesuai 'list') kemudian beberapa menit kemudian. Hopla!!! Done!

Tahu-tahu pas dicoba rasanya hambar...

Trus sadar gue belum makan apapun, lapar, tapi ga ada makanan yang menggugah selera. Lihat sachet sasa (tepung instan buat menggoreng gitu lo) langsung iseng. Tapi yang ini nggak berjalan mulus haha

Tetep baca petunjuk, dan berharap semua berjalan mulus dan 'sesuai rencana'. Gue langsung mulai menggoreng.

Tepung basah siap, tepung kering okeh, minyak panas sempurna. Tapi satu hal, yang gue goreng itu TULANG SAPI!!

-----


Dann gue baru sadar itu setelah ronde kedua gue menggoreng. Sorry tapi mata gue emang ga normal zzz. Gara-gara tuh daging beku, trus gue celup air ajah pas dikeluarin di kulkas, sibuk ma minyak yang meletus-letus, jadi gue main campur ajah semua. Yaudahlah kalo masakan nggak ada yang sia-sia.

Lanjut iseng, kurang sayur nih. Buka kulkas nemu sayuran oyong. 'Ooh tau nih, nyokap sering bikin'. Gue kupaslah tuh oyong, sok-sokan kayak koki hotel bintang lima lulusan oxford, sret sret sret.

Udah 2 oyong gue kupas, ini kok sisanya tnggal seperlima sebelum dikupas.

Pas dilihat di kantung sampah. Lahh, gue ngupas bareng daging-dagingnya. FAILED!!!

Yaudahlahyah the show must go on. Inget nggak berapa lama, bokap sering banget masak, while nyokap sibuk kerja. Pertama-tama, nggak ada yang makan masakan bokap. Dari 100% makanan terhidang, 99,99999% makanan matang!! Sisanya gosong!!!

Nggak sayuran, daging, sop (kuahnya entah kenapa berminyak dan tiris sekali sampe ga keliatan ada kuahnya).

Begitu terus masakan bokap sampe bokap sadar kenapa anak-anaknya kalo dibeliin makanan dari luar dimakan, tapi punya doski nggak pernah. Usut punya usut, nyokap bilang "papa kalo masak, apinya suka kegedean sampe dapur kayak kebakaran". Inget banget gue pas bokap masak, asap pedih di mata suka masuk ke kamar sampe gue batuk-batuk mata merah. Terus lari buru-buru ke dapur dan syokk asep sampe nutupin oknum :S

Beberapa bulan setelahnya, masakan bokap mulai diterima lidah dan perut. Tapiii, karena bokap gue suka ekperimen macem-macem. Kadang-kadang gue suka nemuin toge di sop ato kecap manis di sayur tumisan. Over-eksperimen. FAILED!!

Beberapa hari ini bokap sering keluar kota, gue suka kangen ajah gitu sama masakan papa yang tambah lama tambah enak. Berhubung nyokap sibuk kerja dan tangannya sakit dan kakak gue anti-dapur jadi jarang ada makanan di dapur. Kulkas juga suka kosong karena nggak ada yang sempet beli sayur.

So, atas nama ekperimen dan pengalaman bokap, sekarang gue berhasil makan dengan lahap masakan sendiri. I name it the fried and crispy bone & tumis oyong lonjong ditutup dessert nutrijell melon yummy. It's not that bad, seriously.

It's a nice step to learn cooking just like my father :)

Ready for second plate

Novie
8 February 2012

Sunday, January 29, 2012

Ladies, diskon itu selalu ada



Pernah nggak sih ngerasa melewatkan banyak kesempatan?

Ibarat lo ke Carrefour (baca: Karfur, not Kerfur yah kalo nggak temen gue yg AEnya bakal marah) di hari minggu pagi, lo berencana jalan iseng-iseng cuma mau beli Magnum almond dan susu Indomilk 1 liter, terus lo melihat papan besar terpampang jelas tulisan 'DISKON 75% (last day)' untuk obat pemutih mahal. Yang kalo di hari biasa nggak diskon mending maskeran bengkoang sendiri di rumah karena produknya mahal banget.

Ibarat diskon itu kesempatan. See! Ada banyak kesempatan. Banyak sekali.. karena biasanya satu brand nggak diskon cuma untuk salah satu produknya ajah, tapi bisa hampir semua produk lain juga diskon. Lo bisa beli obat jerawat, obat komedo, obat anti spot hitam di muka. Banyak banget kan diskon/kesempatan lo buat belanja. Tapi masalahnya kadang kita nggak siap. Cuma bawa duit pas-pasan :(

Simple sih, banyak kesempatan yang ditawarkan tapi cuman beberapa dari kita yang siap mengambilnya. Nggak bawa duit lebih.

Duduk sendiri di bangku panjang menatap mimbar dengan tatapan nanar saat ini membuat saya banyak berpikir. Banyak sekali kesempatan yang datang (tanpa saya siap). Namun ketika saya siap, kesempatan itu saya garap sendiri dan (hampir) membuat saya selalu tersenyum hingga sekarang. Bangga.

......





Beda case, gimana kalau ketika kamu siap, kamu tidak mengambilnya? Bodoh? nggak juga sih.

Misal, setelah melihat lorong kosmetik, kamu berjalan terus sampai lorong makanan pendingin. Kamu melihat ayam kentucky diskon. Come on mamennn.. Siapa hari gini yang nggak suka KENTUCKY!!!! KENTUCKY mamennn!

Duit yang lo punya bisa lo pake buat barang yang lebih banyak. Sekeluarga kenyang sekaligus. Yah sudahlah obat pemutih, toh kalo biasanya diskon nanti juga high season besok-besok ada diskon lagi.

Intinya, kesempatan itu bakal ada terus-terusan ibarat diskon. Suka ajah ada alasan buat narik pengunjung tergoda berbelanja dengan diskon gede-gedean. Masalahnya siap nggak kamu ngambil kesempatan itu? Ketika kamu siap pun, kesempatan yang lebih baik juga bisa datang. Itu Pilihan namanya.

Dan ketika kamu tidak siap, bukan berarti kamu bodoh.
Duh kenapa gue nggak bawa duit tadi?
Duh kenapa tadi nggak search dulu di web ato di brosur, cek diskonan?
Duh kenapa tadi ngga tanya-tanya orang dulu?
Kenapa si brand bodoh banget buat diskon, nggak announced besar-besaran?
Duh capek nggak sih lo? Ini sih takdir namanya. Mending kamu siap-siap di kesempatan kedua/ ketiga. Atau mungkin kamu cari kesempatan kedua itu di tempat lain?? Mungkin kesempatan itu, yang kalau kamu ambil, bisa bikin long lasting smile :)

Thursday, December 1, 2011

Saya benci kata 'Benci' dan sayapun menjadi Pembenci

Saya benci si A karema dia penipu!!! Semua orang benci penipu
namun tak satupun dari mereka-mereka yang belajar tidak mempercayainya

Saya benci si B karena dia kasar ucapannya!!! Semua orang tidak nyaman dengan aura negatif
namun tak satupun dari orang-orang itu terganggu padanya

Saya benci si C karena dia jahat dan tidak peduli!!! Semua orang tidak mau berteman dengan orang yang egois
namun tak satupun dari mereka itu menjauhinya

Mulut ini pun berbicara 'mengapa orang-orang di dunia ini cukup bodoh?"
kemudian kepala besar ini bertanya 'sejak kapan kamu menjadi seorang pembenci?"
"sejak kapan saya memghabiskan waktu saya dengan menghardik orang?"
"sejak kapan saya menggunakan energi saya untuk berpikir seberapa buruk orang-orang ini di tengah semua orang mencintai mereka?"
"Sejak kapan saya ingin sekali menutup telinga ketika ada orang yang berbicara?"
"Sejak kapan dahi ini berkerut dan mata ini menatap tajam kesal ke bawah ketika ada di antara mereka?"

Dan sejak kapan saya menjadi devian?
mengapa saya membenci orang-orang yang dicintai?
saya yang salah deh
irikah hati saya dengan mereka?
Mungkin, iyah, saya jawab.
Tapi di luar itu, saya mempunyai pengalaman dengan mereka. Tidak buruk sekali namun tak ingin saya ingat.

Tetapi kenapa sampai sekarang saya masih ingat?
Oh tuhan, saya seorang pendendam, saya mulai menggangap saya lebih dari mereka dan mulai menjustifikasi.
Mengapa saya sudah memberikan energi positif dan ketika saya mendapat muka berpaling mereka, saya langsung menjadi negatif?

Bibir ini tersenyum, kepala saya berpikir mencari cara agar tetap tersenyum dan hati saya tetap berkubung di kata 'benci dia'

Novie
1/12/2011

Wednesday, November 16, 2011

(Not) Special Day

Biasa yah kalau ada hari-hari penting di hidup kita, suasana hati menjadi lebih sentimentil gimana gituh dari biasanya. Ada lebih banyak harapan yang dipengenin, contoh simpel ajah seperti Valentine's day. Sama sih seperti hari biasa, nggak negrayain sih. yah cuman... cuman.. cuman.. atmosfernya itu loh.

Yang punya pacar pengen dikasih coklat, yang nggak punya pengen punya, yang LDR pengen dikasih kembang.. yang gitu-gitu loh. Yah padahal nothing's spesial di tanggal 14 Februari.

Sama juga yang gue alamin sekarang. Beberapa jam lagi gue ulang tahun, tapi sekarang gue masih stuck di meja kantor bareng temen-temen kerja yang lembur. Nggak ada yang berbeda sih sama esok hari.

Matahari masih terbit di timur, bumi masih bulat, masih ada pelangi setelah hujan dan masih ada gadis yang semakin cantik tiap harinya yaitu gue. Nothing's special and big happens tommorow (sampai detik ini besok masih sama dengan hari-hari biasanya). Tapi kok gue merasa agak sentimentil yah?

Ada 'hadiah' dari temen gue yang ternyata batal dia kasih besok karena sakit, ada rencana yang pengen gue lakukan besok tetapi sampai sekarang belum bisa gue siapin karena masih stuck di sini, ada semacam hiburan yang pengen gue lakukan malam ini juga nggak terwujud karena telat nyusul. gedubrak, gedubrak, gedubrak....

Tapi di balik itu semua, semua yang terjadi satu tahun ini sudah melebihi ekspetasi saya dari tahun lalu. Semua yang udah dijalanin dan didapetin sudah lebih dari ekspetasi saya 1 tahun yang lalu *cenang*.

So, apapun yang terjadi esok hari, mungkin bukan salah satu hari terbaik tapi menjadi satu tahun terbaik dalam hidup dan bisa menjadi awal yang baru untuk 1 tahun ke depan.

Jangan lihat apa yang terjadi dalam 1 hari esok tapi lihat lebih luas. Lihat 1 tahun yang sudah dijalanin. Prestasi, kegagalan, putus asa, nangis, tawa, kebanggaan, tepuk tangan, pujian, celaan, kritik, ilmu, teman lama, teman baru, tempat-tempat baru, karya, cita-cita, obrolan, insight, dukungan, pelukan, sayang, canda, marah, tongkrongan, Tidung, Singapore, Malaysia, Batam, Jogja, Bandung, Bogor, manyyy thingsss happennnn more than just one day.

So, my planning for tommorow, what i gonna do for the next one year?
me: depends on God's plan

Novie
Counting on 17/11/2011

Monday, October 17, 2011

Antara langkah, air dan musik

Pernah nggak terjebak harus berjalan agak jauh di jalanan sepi dan sudah gelap?

saya sering sekali. berjalan cepat-cepat untuk sampai karena takut abang-abang yang tidur-tiduran di pinggir jalan. berhubung rumah saya dekat dengan kantor, saya hanya perlu berjalan kaki untuk pulang. Tapi pernah di suatu malam, saya ingin mencoba menikmati perjalanan malam saya itu. sengaja berjalan lambat-lambat untuk sampai ke rumah bahkan mampir dulu ke warung.

kebiasaan saya berjalan pasti selalu sambil menunduk dan berjalan miring-miring. nabrak sana nabrak sini. tetapi ketika saya berjalan pelan, menikmati udara malam ketika itu, mata lurus ke depan, suasana hati pun berubah...

ketika genggaman tangan ini kosong, ketika tidak lagi berjalan beriringan, ketika tidak sambil bergurau atau berjalan sambil saling mengenal. ketika jalan sendiri itu lebih mengesankan.

ketika hari itu saya merasa kesal atau marah, biasanya saya bercerita atau menangis. lain hari itu saya memilih berjalan dan perasaan sesal itu lenyap.

mengambil jalan yang lebih berbatu dibandung yang sudah beraspal. saya melangkah.

teringat artikel yang saya baca tadi pagi di Yahoo sebelum saya mengerjakan beberapa 'perintilan'. di sana tertulis untuk 'melunturkan' rasa marah atau kesal, mandi menjadi solusi yang tepat. sayangnya di situ juga tertulis, mandi juga bisa melunturkan perasaan senang. tetapi saya lebih memilih melunturkan semua perasaan apa saja yang ada di dalam hati. kosongkan agar bersih.

sesampainya di rumah saya langsung mandi besar kemudian minum air putih sebanyak-banyaknya. dengan baju andalan terfavorit saya, saya kemudian tidur dengan headset masih di telinga.

berharap saya masih bermimpi dan hidup di mimpi itu

Tuesday, September 27, 2011

Jalan memutar



“Terkadang ada beberapa orang yang harus mengambil jalan memutar nop” kata-kata bijak seorang teman sebangku kepada saya saat kita masih di SMA 6 tahun silam. inget banget ketika itu saya sedang menangis kecewa sambil menempelkan wajah di atas meja. Begitulah anak remaja labil zaman dulu hohoho..

Bukan putus cinta ato dimarahin satpam karena datang terlambat alasan nangis saya. Tapi lebih geblek lagi, karena untuk kesekian kalinya saya remedial ulangan Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia lewattt, Bahasa Jepang santeeee, lain kalau Bahasa Inggris. Dari zaman firaun ga mampu beli kutang tetep ajah nilai Bahasa Inggris paling jongkok.

Zaman SMP, uuk aak pas ditanya bedanya among ama between ma Kepala Sekolah yang ngerangkap jadi guru Bahasa Inggris

Zaman SMA, nggak pernah absen remedial Bahasa Inggris. Prestasi tertinggi dapet nilai 7 haha.. remedial sih nggak masalah, secara nilai gue pasti bakal naik dari nilai sebelumnya. Tapi masalahnya berapa kali remedial biar lolos dari nilai 7 (nilai minimum tidak remedial).

Zaman Kuliah, ketemu di kampus bule Jepang dan ditanya “how to get BNI?” Eh busett,, ngomong apaaan yak. Yang jelas gue udah jelasin sampe gambar peta di kertas. Moga-moga tuh bule nggak kesasar.

Kemarin saja baru saya ikut test Bahasa Inggris di salah satu tempat kursus, modal cas cis cus, persetan dengan grammar. Kemudian mengisi 50 soal grammar yang saya selesaikan lebih cepat dari waktu yang diberikan. Bukannya bisa tapi yaudahlayah.. males juga mantengin soal-soal grammar toh ga bakal ngerubah keadaan haha..

Trus mentornya memberikan feedback, speaking saya lumayan lancar dan sudah okeh. Berpotensi cepet bisa juga. Dia juga menyarankan saya untuk membeli buku terbitan Longman kalau saya minta belajar toefl sehingga tak perlu les Toefl Preparation. Doi yakin saya bisa tanpa perlu les. Beuhh.. hasil keluar dan saya tak perlu masuk kelas basic. Padahal dulu zaman SMA, inget banget masuk kelas terbasic dari yang basic haha..

Baru-baru ini juga gue present in English di kantor. Jauh dari sempurna tapi lumayan nggak aak uuk kayak dulu. Dibilang juga bahasa inggrisnya bagus. Yah peduli setanlayah ma grammar kalo udah ngomong.

So, here we go. Saya mungkin sudah berada di track orang-orang pada umumnya. Udah nggak lagi muter. Bener banget kata teman saya itu, “terkadang beberapa orang harus ada yang mengambil jalan memutar, tidak langsung lurus sampai tujuan”. Apapun jalan panjang dan berbatu itu, proses yang kamu dapetin itu bener-bener nggak terlupakan dan tak sia-sia. apalagi kalo udah bareng niat belajar mati-matian.

Dengan tujuan yang sama, tapi kerja keras yang lebih berat, sesuatu yang kamu dapetin itu jadi jauh lebih berharga, mungkin lebih awet dan kamu bisa syukuri itu sampai kapanpun. Itu kata andalan saya pas saya menemui kegagalan, mungkin bisa jadi inspirasi buat kamu :) :) :)

Apapun jalannya, mau muter, instant ato berbatu, intinya selalu ada jalan kok

27/09/2011
Novie

Saturday, June 11, 2011

Annyeonghaseyo



Pernah nonton drama atau film korea? Mungkin kamu sering lihat di tv semacam full house dan meteor garden (versi taiwan sih yang ini).

Pernah bicara dengan orang korea? Kali-kali ketemu di pinggir jalan, liat doski lagi ngojek nyari kimchi ato ketemu di pantai, lagi gendong cewek mabok di punggung.

Pernah kerja ma orang korea? Ehem, nah kalo yang ini pernah, cheers dulu ah pake arak ato bir dingin :D

Lucu ga lucu, sedeng agak sableng, pinter tapi nyusahin. Benar kata pepatah 'kamu bisa memilih pekerjaan, tapi kamu tidak bisa memilih BOS!'

Alkisah di suatu pagi yang cerah, tak ada pertanda atau sign apapun, masih asyik makan bubur ayam sate ati & usus di meja sambil baca miiko via komik online. Chat sana chat sini. Ngegosip sama beberapa teman dekat. Tiba-tiba, semua lenyap menjadi hari yang rusuh.

“Novie, siapa yg pegang produk X?” ujar seorang bos korea wanita saya yang saya sering 'bangga-banggakan' sebagai kakak saya hehe (mirip-mirip dikitlah, sama-sama sipit dan punya lesung pipit).

Trus teriak saya “SAYA MISS!” spontan angkat tangan tinggi-tinggi kebiasan dulu sering nanya di kelas (serius beneran angkat tangan).

“Trus yang pegang produk Y siapa?” tanyanya lagi.

“Citra miss!” teriak saya. Sang teman yang kerasa disebut namanya malah langsung berdiri, kebetulan tuh anak angkat tangan juga nggak berasa. Kontett hehe.

“Ayo kita miting sekarang!!!”

Jebret, jebret

Ketok palu. Tok tok. Hasil miting saat itu adalah Citra kebagian shooting hari ini juga dan gue kebagian besok karena kita pake chef orang korea yg cuma bisa dua hari di Indonesia (btw, gue kerja di salah satu home shopping terkemuka ehem).

Saat itu juga ketemu chef korea bersama antek-anteknya dan chef dari indonesia. Miting bilingual pun terjadi. Ada yang berdiskusi pake bahasa Indonesia, ada yang pake bahasa Korea, ada juga yang pake bahasa mimpi alias tidur (yang ini pastinya guweii). Rundown miting hari ini adalah nentuin bahan-bahan masakan yang mau dibeli. Saya dan Citra berperan penting sebagai tim belanja. Maka kita berdua sibuk nyatet belanjaan. Schedulenya jam 10 siang miting, break lunch, belanja, jam 4 on cam.

“Jadi siapkan semua bahan untuk 3 porsi. Jaga-jaga kalau ada kesalahan. Beli ayam 3 ekor, kerang hijau 3 kilo eh jangan 5 kilo saja, ikan gurame 5 atau 6 ekor yang ukuran sedang.”

Gue sama Citra sibuk mengganguk dan mencatat. Yang lain ikut berdiskusi. Masih dengan rapat bilingual berhubung chef Korea yang jauh-jauh datang dari Korea (yaeyalah) nggak bisa bahasa indonesia dan kita-kita mangap denger bahasa korea. “Beli kompor 10, gas can 30, oven 1, gunting 5, penjepit masakan 10, tissue dapur 6 pak.” Jeglek!

“Beli ikan kakap 6, bumbu gulai 6 pak, daging sapi 3 kilo, jagung 3 bungkus, ubi 4 bungkus, kecap manis ma saus 4 botol besar dan 6 botol kecil, telur 150 biji, semua bahan garnish dibeli dikali 6 porsi”. Eeett dahhh nulisinnya ajah udah kenyang. Catattt... (Makin lama makin nyerah sama tulisan yang nggak ada rapi-rapinya)

Di sela-sela miting, gue sama Citra gantian mondar mandir keluar ruang rapat karena banyak printilan lain yang harus disiapin saat itu juga buat shooting hari ini dan besok-besoknya.

“Jadi kita beli piring display 6, beli yg satu set. Kecil, sedang, besar”
Trus langsung gue nyaut “Di atas sudah ada”. Langsung bos lokal gue ngejawab “Beli lagi jangan kayak orang susah”. Beuhhh... Lanjut dicatatt..

Tak berapa lama, bos Korea gue yang cewek mangap-mangap “Beli ituuu yahh ituuu.. (bingung nyari kata yang tepat buat deksripsiin otaknya yang abstrak sambil garuk-garuk kepala dan benturin kepala di meja) ituu...”

Ini emang tingkah wajar boss korea cewek gue (satu-satunya yang lancar berbicara bahasa Korea, Inggris dan Indonesia) maklum doski panikan.

“Tenang miss, tenang. Bahasa inggrisnya apa miss”

“Oohh ituu, beli yang namanya potatoes' (Jyahh si kentang bikin masalah).

“Nah belinya yang bulet yah, buat disebar jadi garnish”

Trus gue langsung nyahut “kalo beli kentang, beli yang utuh ato dipotong-potong siap goreng miss? Lebih enak yg udah siap digoreng.”

“Bukan kentang bulat”

“Iyah yang buat garnish kan kentang koreng”

“Tidak beli kentang rendang yang bulett kecil-kecil”

“Kentang rendang miss???' Dan akhirnya permasalahan kentang mengentang ini diperdebatkan selama kurang lebih 15 menit dan berakhir dengan beli kentang utuh untuk garnish gulai ayam (yang maksudnya dipotong kotak-kotak buat side barnya ayam di gulai itu) haissss...

Tak berapa lama, teman saya datang ke ruang miting, gantian saya izin keluar karena dipanggil keluar. Ada kerjaan lain yg musti diurus. Semua daftar menu untuk shooting dua hari sudah dibicarakan juga.

Pas udah kelar kerjaan, saya pun balik ke ruang miting. DANG!!! Meja rapat isinya udah makanan lunch box korea yang gedenya lebay dan porsinya gila-gilaan. MANA CATATAN BELANJAANNYA??

Mulai panik.

Cari di kolong-kolong meja, nanya-nanya OB, nanya orang korea dan para chef. Untung bos gue yang lokal makan siang di luar. Cari-cari di meja kantor dan meja temen. Buka-buka semua folder sama file di meja (sempet kepikiran cari di tempat sampah bahkan).

Ya tuhan masa gue seapes ini. Sampe akhirnya setengah jam dicari nggak nemu-nemu. Dua lembar catatan belanjaan yang musti dibeli hari ini hilang. Rasanya pengen pura-pura pingsan. Pelan-pelan semua anak kantor pada sadar gue ribet sendiri. Malah becandain gue yang bikin mau pura-pura mati ajah.

“Novi, makan. Ayo makan abis ini belanja” boss korea mulai berisik. Dua suap berhasil ketelen tapi abis itu gue langsung balik ke meja, mulai mengais harapan di tumpukan kertas yang lain. Mana tuh makanan Koea enak dan komplitnya bukan main. Pake ada kimchi segala. Mana Citra lagi ke pasar bentar ambil pesenan celemek. Eh Citraaa!!!

Langsung telepon dia nanya dimana si catatan bedebah itu. “Ada nov di map gue di meja”. Astafirlohh.. Sembah sujud sukurrr. Catatan yang hilang itu catatannya Citra, secara gue udah nyatet tapi berantakannya alamakzang jadi setelah gue lengkapin catatan Citra, gue buang catatan gue. Mammamia!!!

“Ayo Novi belanja. Citra mana?” Celaka dua belas, citra lagi di pasar, mau marah-marahin abang-abang pasar bikin pesenan celemek nggak kelar-kelar. Buru-buru gue pergi berbelanja. Yaudah cabut ajah deh, eh pas mau berangkat, tiba-tiba suara temen gue yang cempreng langsung kedengeran. “NOPI!!!”, tuh temen ca’ul gue datang dari pasar. Kelar ambil map yang berisi catatan belanjaan bedebah itu langsung kita naik mobil ke Carrefour.

Kejutan hari itu tidak hanya itu saja. Ternyata gue sama Citra harus berbelanja bersama 3 orang Korea yang notabenenya tidak lancar berbahasa Indonesia dan kacrut berbahasa Inggris. JENG-JENG!!!

“Okeh mister, kamu beli oven, saya beli sayur yah. Okeh?” Tanya saya yang nggak mau belagu pake bahasa inggris belapetan. Pertanyaan sayapun diiringi anggukan mereka yang kemudian 20 menit kemudian mereka datang dengan troli kosong. Nggak dapet, katanya. Tapi kita sanksi mereka nggak nemu tempat ovennya dimana.

Ada satu yang paling lucu dari ketiga pria korea ini, namanya Mr. Kris. Doski paling ribet bawa-bawa troly, kesusahan nyari barang, akhirnya doski cuma jagain barang ajah (dan tentunya yang bayarin belanjaan secara dia pundi-pundi emas kita saat itu :D).

Saat gue lagi sibuk belanja, doski malah nyanyi “bangun lagi, tidur lagi, bangu lagi, tidur lagii, bangunnnn… tidurr lagiii…” (nadanya nggak jelas sama bahasa Indonesianya yang amburadul seratus persen bisa bangunin Mbah Surip dari liang kubur). “Ayo cepat saja novi!! Cepat saja!!” daritadi ngomongnya itu trus. Errr minta dibakar. Apalagi pas gue sibuk pilih cabe, doski ngomong “Novi yang itu lucu (sambil dagunya ngangkat seolah-olah nunjuk cewek celana pendek), tapi bukan selera saya.” Heleh, semprul. Lama-lama dicabein juga nih, lagi ribet juga.

Selidik punya selidik, doski ternyata lulusan jurusan Bahasa Indonesia di Korea (maklum bisnis Home Shopping katanya berpotensi besar di Indonesia). Umurnya kisaran 20an kalo nggak salah dari perkiraan. Dan dulunya pas di Korea doski ngakunya punya pacar trus diputusin pas ke Indonesia hari Jumat kemarin karena mau fokus kerja katanya. Agak culun orangnya, kecil, tingginya setara gue. Pake kemaja putih ma celana bahan itam rapi dann… yang paling ngehits pake dasi PINK!!!

Tingkah doski mirip-mirip anak kecil, pas temen gue salah nyebut parkiran, doski marah dan sibuk bilang “Don’t touch me!!! I’m angry”. Beuhh, nih orang kecil minta digoreng. Sibuk bayarin 5 troly belanjaan, gue kesian jga ngeliatnya karena dia baru seminggu di Indonesia dan masuk di kantor gue, gue nawarinlah botol minuman yang habis gue ambil dari freezer. Mendadak geplakan tangan teman gue hampir kena kepala gue. Temen gue bilang “Nyong, itu bekas lo tauk. Dia itu bos!!!” Astafirloh, khilaf nopi yah Tuhan :D

Setelah bayar semua barang belanjaan yang dibarengin dengan pertanyaan sang kasir “lagi buka restoran yah mbak?” trus kita langsung buru-buru ke kantor buat nyiapin semuanya.

Sempet ngacir ke pasar naik motor trus nyampe ke kantor buat bantu siapin resep-resep. Siapin masakan? Yah paling potong memotong bisalah, sampe akhirnya gue kebagian nyuci ikan. Dengan pedenya gue bawa tuh 3 ikan gurame gede-gede, balik-balik dengan polosnya gue balikin tuh ikan yang cuma gue keluarin dari plastik ma gue rendem air dikit.

Gue baru tau kalo nyuci ikan itu berarti dibersihin sisiknya ma insangnya. Lah nyuci baju cuma direndem doang pake sabun :O. akhirnya gue pun belajar nyuci ikan. Dalem hati, kalo setaun gue kerja di sini nggak bisa masak juga, kelewatan begonya gue. Setelah kemarin dapat tanda 2 irisan luka di jari, gue dapet 1 irisan cinta lagi dari bersihin gurame. Yassalam.

Okeh mungkin gue harus mendekati salah satu orang Korea di kantor gue. kali-kali gue bisa diajarin masakan orang Korea, yang mungkin nggak lebih ribet dari masakan Indonesia. Annyeonghaseyo mister, please teach me how to cook kimchi!!!




09/06/11
Novie

Tuesday, May 17, 2011

ZONK!!!

“Passion lo apa nop?” Sepenggal kalimat pendek menohok menghujam membombardir perasaan keluh di hati (ealahh…). Malem-malem dapet bbm kayak gitu bikin mikir abiss cuyy..

Dengan lugu mepet-mepet dungu, gue ketik ‘ga tau’. Eaaaa…Gue tau nih bakal panjang urusannya karena temen gue kental banget passionnya di musik and he’s really so talented!!!

Selang beberapa menit, gue lihat tweetnya “suka ngerasa kasian ada orang yang lupa passionnya apa.” (something’s like that lah yah tweetnya, search timeline-nya dia lama)

Mulailah gue berpikir menaikkan harga diri gue sebagai seorang manusia. Gue langsung ngetik ambisius emosional di bb. Ngambarrr…(Attention please! Huruf ‘R’ nya harus banyak seakana berteriak), trus present sesuatu lewat omongan komunikatif, trus gue pengen bikin novel, trus gue suka memanage sesuatu (note it! Bahasa halusnya jadi bos), gue pengen belajar bahasa mandarin (yaelah inggris ajah belapetan cuih..) biar bisa jadi tour guide (cita-cita sejuta umat supaya bisa keliling dunia zzzz..)

Nggak kalah cadas yang beda jauh ma cerdas, temen gue bales ‘lah banyak amat?’. Toeng… emang passion nggak boleh banyak? Pelit lo!

Pikir dipikir, logis juga yah. Trus yang gue kerjain sekarang bukan passion dong? Seakan menjawab pikiran gue, dia bales ‘bisa yah lo kerja yang buka passion lo?’ ehmm.. gue mulai ngerasa nih orang berguru ma Ki Joko Bodo.

“Nggak kok. Gue suka kerjaan gue. Mobilisasi tinggi yang gue suka, mengatur sana-sini, menulis, ngasih ide. Cuma produk-produknya ajah yang nggak gue cintai sepenuh hati. Buanyaknya nggak karu-karuan dan membutuhkan daya ingat yang besar ntuk mengingat tiap detil bagiannya.”

“Tapi jujur passion gue sebenanya di gambar. Bisa ga tidur seharian buat kelarin. Kalo lagi pengen harus langsung ngerjain kalo nggak ide titisan langit itu lenyap dimakan angin.”

“Seniman banget lo. sama kayak gue. Gue juga kalo mau bikin lagu langsung di komputer kantor nulis-nulis not lagu” bah, tepok tangan meriah di atas kepala gue bagi keteguhan hati teman gue ini.

Passion?

Ehmm…

Is there anyone can help me to define what passion is?

Passion kalo menurut gue sesuatu yang ingin sekali dikejar. Dulu SMP, selalu ranking 1, belajar mati-matian, begadang, selalu bikin PR, matematika selalu dapet 10 (kalo dapet 8 nangis eaaaa), nggak pernah bolos walau sakit meriang demam mengigil, paling sering dicontekin PR ma ulangannya di kelas (dan paling pelit ngasih jawaban), selalu jadi yang pertama ngumpulin hasil ulangan di kelas, kejar nilai UAN paling tinggi dan masuk SMA unggulan ke-Jakarta Barat (anjrit nih orang kalo nggak jadi presiden, berpotensi jadi calo tiket. Serem abesss)

SMA? pengen masuk kelas unggulan (yang akhirnya masuk kelas pendamping unggulan), dapet ranking 7 di SMA unggulan se-Jakarta Barat pas tahun pertama, masuk jurusan IPA dan terdaftar di kelas unggulan kimia (nilai kimia di raport kelas 1 gue 9,1) di tahun kedua dan di tahun ketiga mulai freak ma yang namanya UAN dan SPMB. Nilai 3 mata pelajaran gue di UAN pun 9 semua.

Ikut bimbungan belajar GANESHA OPERATIONS kelar sekolah, ikut try out, beli buku soal-soal SPMB iseng-iseng sore gue kerjain ampe halaman terakhir, ambil keputusan terbesar dalam hidup yaitu melepas jurusan IPA tercinta menjadi jurusan IPS demi jurusan yang tak juga saya sesali sampai sekarang. Seratus dua puluh persen meninggalkan pelajaran Matematika dan Kimia yang saya kagumi, mencoba memahami apalah artinya belajar Sejarah (hoekss…. Prinsip gue yang berlalu biarlah berlalu) dan tertarik belajar Ekonomi dan Geografi.

Saking freaknya di kelas bimbingan untuk kelas IPS gue udah kelar ngerjain semua soal Matematika, sedangkan guru masih sibuk nerangin langkah satu persatu 5 soal pertama (maklum gue freak yang namanya Matematika, nggak mau kalah, dan emang di kelas IPA udah diajarin lebih dulu). Anak-anak yang lain di kelas itu yang paling gue inget sibuk nanya warna baju Prom lo apa. Beuhhh.. (bahkan gue ga pernah ngerasai Prom Night. Nggak antusias.)


Jebol tes Seleksi Pemilihan Mahasiswa Beruntung (SPMB) yang dibarengi derai air mata sekeluarga antara bangga dan sedih melepas gue ngekost di Depok. Masa-masa kuliah gue udah nggak sefreak dulu. Santai , anteng. IPKnya rata-rata (yah dan emang mentok segitu). Hingga salah satu senior yang paling tak disangka, tak diduga lulus cepat hanya 3,5 tahun (hal yang membanggakan di jurusan waktu itu). Berkatalah ia “lo harus milih. Mau 3,5 IPK lo ato 3,5 tahun lulus lo.”

Berhubung IPK kagak nyampe segitu, ambisius sumpah pemudi ikrar janji setia pun dimulai. Peperangan emosional dan batin pun dimulai. Di semester tujuh yang menandakan ketujuh kalinya judul skripsi gue ditolak dan pembimbing skripsi sempat mengundurkan diri karena nggak sanggup ma gue (yang apa-apa serba buru-buru, it explains everything now). Dapet kata-kata pedas dan kritikan itu biasa. Lelah dan bingung apa yang harus diisi di skripsi tebal biar ikutan dipajang di rak-rak Jurusan. Mengejar dosen dan narasumber udah jadi senjata perang.

Kemudian semua mengalir sesuai jalannya. Mendapat topik yang paling gue banget yaitu ‘Jurnalisme Investigasi’, dapet link ke Trans TV, mulai belajar menulis sistematis dan berkesinambungan, telaten dan belajar menganalisis masalah dan akhirnya bertogalah saya awal Januari 2010. Yes, impian saya tercapai. Lulus 3,5 tahun. Kemudian lo mau ngapain nop?

ZONK!!!

Ngak ada lagi yang mau saya kejar sekarang. Lupa dengan antusias menggebu-gebu, ngotot, penasaran, dan pantang menyerah. Lupa caranya belajar..
Intinya lupa passion gue apa 

Novie yang lupa dengan passionnya
17/5/2011

Baju Hitam, Bendera Kuning















Melintasi Jalan Panjang, berpacu melebihi kecepatan normal
Menjadi yang paling depan
Membuka jalan untuk Yang Terakhir, menutup jalan bagi Yang Menuju Terakhir
Menuju TPU Joglo..

Baju hitam, bendera kuning…

Di balik jaket yang dikenakan, ada kaos hitam yang saya pakai.
Di balik genggaman tangan, ada bendera kuning saya kibarkan.

Baju hitam, bendera kuning…

Sabtu malam (14/5), saya mendapat broadcast message kabar dukacita ayah teman SMP saya meninggal. Kemudian semua berjalan begitu cepat hingga saya tidak ingat detilnya. Teman dekat saya yang lain menjemput, kemudian tibalah saya di rumah teman saya itu. Banyak tangisan, banyak teriakan. Rintihan yang membuat saya ingin menangis 

Beberapa kali saya dan teman saya itu nongkrong bersama dengan teman-teman yang lain. Keabisan ide mau kemana, kami pun memilih Kota Tua, Monas dan Taman Menteng. Nongkrong-nongkrong, makan-makan hingga subuh. Kami lumayan dekat, keluarga kami saling kenal. Dia salah satu teman yang tahu bagaimana transformasi bentuk tubuh saya. Dari yang dulu membulat hingga sekarang… membundar!!

Setelah berdoa Rosario dan ibadat sabda, semua teman SMP saya berkumpul mengelilinginya. Ada 7 orang di antara kami dan hanya saya yang wanita. Berpelukan, memegang tangannya, membelai bahunya. Bingung harus berkata apa 
Ayahnya meninggal di pesawat ketika sedang terbang ke Solo bersama ibunya. Mereka berencana menjenguk orang tua mereka yang juga sudah mulai sakit-sakitan dan rindu ingin melihat anaknya. Jantung ayahnya memang sudah mulai melemah dan sering bolak-balik ke rumah sakit, tampaknya pun sudah tak cukup kuat melakukan penerbangan pesawat. “Yang paling sedih gue liat, dia itu kalo tidur malem-malem harus ngadep ke bawah, liat dinding. Kalo nggak, yah nggak bisa tidur, sesak katanya. Kalo siang baik-baik ajah malah. Biasanya nggak gituh, dulu sebelum kerja di pabrik yang sekarang, justru siangnya sesak terus, malemnya bisa tidur.” Suara pelan teman saya yang sayup-sayup mulai tak terdengar akhir kalimatnya.

Semua teman saya pun berkata “lo sekarang kepala keluarga ris. Harus kuat. Inget kepala keluarga!“ Ehm.. baru kali ini saya mendengar pembicaraan antar pria yang serius. Mungkin kalau saya yang diberitahu seperti itu, tangis saya akan lebih kencang. Lain dengan teman saya yang justru menarik napas dalam dan menghapus air matanya. Tanggung jawab seorang lelaki.

Adiknya perempuan yang nomor dua justru terlihat sebaliknya, dia berdiri tegak denan mata bengkak menerima bela sungkawa. Meski umurnya masih sekitar 20 tahun. Terlihat sekali ia paling tegar. Sedangkan adik perempuan yang ketiga dan juga paling kecil sangat terpukul, ia berteriak ‘mau ikut papa’ berulang kali. Kira-kira usianya 17 tahun. Maklum hari itu tepat dia berulang tahun 

Masih segar, bersenda gurau, makan-makan merayakan adiknya berulang tahun sebelum ayahnya benar-benar ‘mengudara’. Teman saya sendiri yang mengantar ke bandara. Sedih rasanya.

Hingga jam 2 pagi, kami masih bersama hingga kami semua pamit pulang dan berjanji besok akan ke sana lagi sebelum jenazah datang dari Solo. Namun salah satu dari kami tetap tinggal menginap di rumahnya. Sempat teman SMP saya itu mengajak main capza (yang terus saya bales dengan kata ‘sableng’). Semakin banyak saudara yang datang. Semakin banyak rintihan.

Baju hitam, bendera kuning..

Dan di sinilah saya, di Jalan Panjang, dibonceng salah satu teman saya menuju ke TPU Joglo. Berusaha mengalahkan motor-motor lain untuk menjadi yang terdepan agar jalan terbuka untuk ambulans yang membawa jenazah. Melambai-lambaikan bendera kuning agar diberi jalan, menunggu 5 mobil pribadi dan 4 metromini agar juga diberi jalan. Sekitar 40an sepeda motor ikut menemani di depan, belakang dan samping iring-iringan. Almarhum dikenal orang yang sangat baik di lingkungannya. Setelah iring-iringan melewati kami, motor pun mengebut liar terus membuka jalan agar Yang Terakhir mendapat jalan yang lapang untuk beistirahat.

Baju hitam, bendera kuning..

Gerimis di hari yang terik. Mengikuti proses pemakaman. Menyanyikan lagu gereja yang menyiratkan ia telah ‘hidup’ bersamaNya. Melihat istri dan anak-anaknya almarhum menangis dan menebar bunga di tanah merah yang lembek. Kuburan-kuburan yang sudah ada bertahun-tahun yang lalu diinjak-injak. Merinding melihat teman saya berlutut di bawah nisan ayahnya seselesai prosesi terakhir. Bergantian teman-teman saya memeluknya dan memegang ibunya takut-takut pingsan. Hari itu pun saya menangis.

Baju hitam, bendera kuning..

Silih berganti orang-orang berkata ‘papa sudah tidak ada sekarang yah.’ Kepada adik yang paling kecil

Baju hitam, bendera kuning..

Memohon diberi kesempatan lebih banyak untuk membahagiakan orangtua dan membuat mereka bangga

Baju hitam, bendera kuning..

Doa saya menyertai kepergian beliau..

Novie
17/5/2011

Sunday, May 8, 2011

Yes, We're On The Track

Bangun lebih pagi sebelum alarm 'berbunyi', membuang semua isi lambung dan usus, mengecek twitter, bersih-bersih, pakai soflens adalah rutinitas pagi saya. Rapi diri, rapi sana rapi sini, berangkat kemudian sampai kantor. Keluar rumah memulai hari seperti biasa.. seharusnya..

Namun ada yang berbeda di hari ini sampai saya bertemu 2 anak kecil di seberang gang rumah. Keduanya anak perempuan. Yang satu berambut panjang lurus, bermata besar, bermuka khawatir, meremas kaus lusuhnya dengan genggaman kecilnya. Yang menarik dari anak ini, ia memiliki potongan poni yang miring atau sama sekali tidak rata.

Anak perempuan yang satunya lagi malah jauh berbeda. Dia berambut panjang keriting, matanya kecil, tertawa-tawa, teriak-teriak, lompat-lompat. yang saya lihat dia memegang 2 koin Rp. 500,- perak.

Hati nurani saya menyeruak ketika sang anak berambut keriting berteriak-teriak, lompat-lompat sambil berkata "Ayo nyebrang!!!" sambil menunjuk jalanan di depannya yang sepi. tapi anak berambut kurus justru diam dan matanya menyiratkan kepanikkan.

Kuberanikan diri membantu mereka menyebrang, niatku. Kemudian saya pun menghampiri mereka.
Kakak kepo(KK) : "Dek, mau nyebrang?"
Adik manis berambut lurus (AMBL) : (menggelengkan kepala) "Kakak, mobil merah itu sampai pesing ga?" (menunjuk salah satu angkutan umum)
KK : "Nggak, yang ke sana warna kuning. mau ke pesing yah?"
AMBL : "Iyah mau main ke rumah teman."
KK : "Yaudah ikut kakak ajah, kakak searah ke sana"

Kemudian tak berapa lama, si mobil kuning pun datang. sepanjang perjalanan. Kedua anak tersebut semakin menunjukkan muka khawatir dan bingung. terus melihat jalan. seakan bertanya "lagi-dimana-nih-gue-sekarang-semoga-kakak-cantik-ini-tidak-menculik-saya". muka bereka bertambah khawatir ketika bis metromini di belakang mobil berhenti mepet seakan-akan mau menabrak mobil kuning ini. Terus melihat gedung-gedung dan rumah sambil mengenali jalan kurasa.

Mereka terlihat kebingungan dan panik. Terlihat sangat kecil di jalanan yang agak besar ini. Sama seperti saya yang terlihat terlalu kecil untuk dunia ini. Sometimes i feel that i'm too small for this world...

Saya mempunyai kebiasaan anti sosial ketika hendak di jalan hendak berangkat ke kantor. Bengong, melihat perilaku ibu-ibu berpakaian kerja rapi dan tok hitam ketat, memandang kosong jalan raya adalah hobi terpendam saya. Tetapi melihat kedua anak kecil ketakutan menjadi sebuah inspirasi tersendiri saya. Begitu kecil hingga bingung harus berbuat apa. Sama dengang saya yang begitu kecil, tidak tahu arah, hanya pergi ke tempat Dia menunjukkan instruksi ketika saya bertanya kepadaNya.

Mereka, kedua anak perempuan tersebut, terlalu kecil hingga bingung harus kemana. meski saya sudah menunjukkan arahnya dan mereka berada di tempat yang benar dan searah dengan tujuan mereka. tetap saja banyak kekhawatiran tersirat di wajah mereka.

Berkaca pada mereka, saya yang selalu ditunjukkan arah tetapi tetap saja selalu banyak kekhawatiran. Apakah ini salah? apakah saya seharusnya tidak begini, tidak begitu? Yah, saya sudah berada di 'track' atau angkutan yang benar. Yang sudah Ia persiapkan. Tetapi kenapa selalu ada kekhawatiran dalam benak saya?

Takut-takut salah. takut-takut nyasar... kenapa harus takut?

We'are on the track!!! Yes, track Dia.















Sungguh refleksi pagi yang inspiratif dari-Nya di kala galau menyerang sehari-hari ini.

Kemudian tak berapa lama, mereka terlihat rileks.

Kemudian si anak perempuan berambut lurus bermuka panik ini bertanya ke anak perempuan satunya lagi "kamu tau daerahnya kan?" si anak rambut keriting mengganguk. kemudian mereka mengobrol beberapa kali dan tertawa.

Tak lama kemudian, masuklah pemuda berheadphone besar yang merokok di depan dua anak ini. merasa saya melihatnya terus dia pun mulai mematikan rokoknya.

Kakak kepo pun mulai mengajak mereka berbicara lagi.
KK : "kalian kakak adik?"
AMBL : "Nggak"
KK : "Kok nggak sekolah dek?"
ANBL & Anak manis berambut keriting : "lagi pere' kakk" (ucap mereka hampir berbarengan)
ANBK : "Abia bosen kak di rumah nggak ada teman. jadi main ke rumah teman"

Merasakan saya sebentar lagi saya akan turun, saya pun mulai memberikan instruksi apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Tersenyum sebentar, turun dari angkutan untuk menunggu angkutan lain.

Yes, we're on the track.

Inspirasi dan refleksi bisa datang darimana saja dan dalam bentuk apa saja. Semisal hari ini, datang dari dua anak perempuan. aah.. sayang saya lupa menanyakan nama mereka. Terima kasih adik yang telah memberi kakak sebuah 'arah'.

Novie
09/05/11

Friday, March 18, 2011

Nangkring nongkrong ala warung kopi

Lama tidak menulis di 'angkringan' ini membuat saya menjadi ketagihan nulis. seperti reuni dengan kawan lama, tak henti-hentinya saya ingin menceritakan semua yang terjadi kepada kawan saya itu. ibarat sekarang ada di warung kopi; duduk-duduk mengobrol dengan kawan lama; sembari menyeruput segelas kopi favorit saya, irish cream blended coffee (apapun namanya asal ada rum di kopi atau coklat panas/dingin saya pasti suka).

saya pun ingin menceritakan kisah saya. ehem.. (like someone care whossaaahh..)

kawan, sekarang aku memiliki pekerjaan baru (seperti yang saya inginkan dari dulu-dulu). profesi baru, tempat baru, teman baru, atasan baru, dan tentunya gaji yang baru. namun masih di bidang yang sama yaitu broadcasting. Tapi tentunya di program yang berbeda.

Bergerak dari cita-cita menjadi news anchor kemudian ada beberapa alasan yang memungkinkan saya tidak menginginkannya lagi. kemudian memantapkan jejak langkah menjadi reporter media online (karena basic pendidikan saya yang jurnalisme), seizin Tuhan saya menemukan lahan yang membuat saya jatuh hati yaitu lahan produksi dan kemudian di sinilah saya sekarang. di tempat baru.

reporter, production assistant (PA) dan kemudian copy writer. reporter membuat saya senang dan 'menemukan' diri saya tetapi saya tahu saya harus belajar banyak dan berdedikasi tinggi untuk menjadi bagian di sana. Tetapi hujan badai petir yang menyambar saat bekerja di sana tidak membuat saya semakin just-into-you (ngomong apa toh nop nop). Seluk beluk dunia jurnalisme di bangku kuliah justru malah tidak membuat saya ingin terjun di dalamnya. Menyukai tetapi hanya menganggumi dari jauh. Lain halnya dengan production assistant, kalau dia itu seorang pria pastinya saya sudah melancarkan jurus-jurus jitu pedekate. Ehm…

copy writer? Dari zaman SD, saya memang suka mengarang. Perihal memanjang-manjangkan kalimat dan memperbanyak lembar jawaban ujian bukan masalah sulit bagi saya (sombong dikit guys). Tetapi kalau soal kesinambungan antarkalimat dan stick to the topic itu perihal lain hohoho.. tak disangka, anak –lapangan ini kebagian jatah di depan computer terus. Ketik sana, ketik sini..


dan disinilah saya.. berada di kantor yang baru (3 minggu itu masih baru kan?), posisi yang belum pernah saya lakukan sebelumnya tetapi diberi kesempatan melakukannya. Saya senang! Melakukan sesuatu yang baru membuat saya terpacu. Berada tepat di depan computer yang baru saya dapat 2 hari yang lalu, mendapat semua fasilitas yang saya butuhkan (meja buat merebahkan kepala ketika selesai makan, telepon untuk mengobrol dengan teman, speaker dan headset untuk nonton trailer film, colokan untuk ngecash BB (kalau sampai dibaca bos habislah saya). Di samping kanan meja bos saya atau yang saya panggil komandan (dan dia balas panggil saya sipit atau cina watdezig) dan di samping kiri saya seorang teman baru. Baik, ramah, sabar mengajarkan saya. Yang terakhir ini nih yang saya paling salut dari dia. Kalau di kantor alam saya punya genk unyu (5 orang cewek single, menarik nan kece), di sinipun saya punya genk unyu part 2. Beranggotakan 4 wanita cantik muda dan masih itungan anak baru juga.

So far menyenangkan, baik-baik dan santai tapi seru. Ehm..

Jarak dari rumah pun lebih dekat dan jam kerjanya pun lebih beradab untuk ukuran bidang broadcasting. Job desknya masih bisa terhandle. Pulang pun rame-rame bersama genk unyu karena sebagian besar rumah kami searah. So far seperti itu. Tapi ada yang tak bisa tergantikan dari pekerjaan saya yang lama….

Tak tergantikan..

Yaitu teman-teman-yang-paling-asik-sedunia

Yang satu ini yang paling berat ditinggalkan dan paling sulit tergantikan. Sahabat, teman nongkrong, teman nyushi bareng, teman minum kopi bareng, teman nyampah, teman menghina bareng, papih, semuanya.. tak tergantikan.

Whoosaahh..

Tapi begitulah hidup. Terus berjalan kawan. Toh saya tidak kehilangan mereka  hidup memang begini, terus berjalan, terus belajar.

Kata seorang teman, saya memiliki unsur tanah. Perlu dipupuk terus kalau tidak akan mati. Belajar terus. Saya percaya hanya ada 2 pilihan yaitu belajar atau mati.

Whosaahhh…

Apa yang saya dapatkan sudah lebih dari cukup. Lebih dari yang saya pinta, lebih dari yang saya bayangkan.

(seruput kopi saya) baiklah kawan, segitu dulu obrolan kita. Sudah waktunya bekerja sekarang. Next time kita ketemu lagi di warung kopi ini yah bung. Jangan bosan-bosan yah.

Tegukan terakhir irish coffee hari ini.

18/03/11
Novie

Thursday, March 17, 2011

It's about move on fellas

Lama saya tak berkunjung ke 'tempat sampah' ini. Banyak moment atau chapter yang sudah tidak saya buang ke tempat ini. mengapa? itu berarti hidup saya sedang baik-baik saja atau 'lebih' dari baik. Egois memang. Di kala hidup saya baik, saya melupakan 'tempat nongkrong' ini. Bukan begitu, saya agak susah mencurahkan kebahagiaan saya dibanding menumpahkan kekesalan atau ekmarahan saya haha.. aneh betul yah? lagipula saya tidak mau menumpahkannya di 'tempat sampah' karena semua yang etrjadi 'luar biasa'. Di pikiran saya pun, semua tidak ada yang abadi. Ketika saya menumpahkan kebahagiaan atau good story in here. it's just the matter of time. it's not taking any longer time to be taken from me.

Saya lebih suka menceritakan kemarahan atau kesedihan saya karena ketika saya baca ulang nanti, saya akan berkata 'hell no, how stupid i am. what the hell i'm thinking about when i wrote this story?' dan saya tidak ingin mengulanginya dan bertekad untuk memperbaiki diri saya dari waktu ke waktu.

Nah, what's going on here??? halahh... pertanyaannya sekarang saya ingin berkunjung ke 'angkringan' ini? (saya namakan angkringan karena ini tempat yang asyik untuk nangkring dan nongkrong halaahh).

Kemarin karena sedang tidak ada kerjaan (tumben) tergeraklah hati saya untuk membuka angkringan ini (by the way, saya berhasil 'menyebrang' loh ke tempat kerja yang lain ;D). kemudian tertangkaplah mata saya pada judul postingan salah satu mantan teman sekantor saya, judulnya 'jalan di tempat' (thank you ucha for you inspiration hehe).

Judul ini ibarat ada hujan pisau menancap semua pojokan dinding hati saya (halahhh). berpikir, merenung, meratapi, mengingat-ngingat, berpikir lagi dan bertanya 'apakah saya juga berjalan di tempat?'

kemudian saya berkomentar di postingan teman saya 'kamu yang emrasa berjalan di tempat tetapi mungkin orang lain tidak melihat seperti itu. benih sudah ditabur, hanya belum kamu tuai hasilnya. mungkin tak sepengetahuan kamu, benih itu sudah tumbuh akar dan tunas di dalam tanah. hanya belum terlihat saja dari sudut pandang kita yang hanya melihat dari atas. bagaimana kalau kita lihat dari bawah?' (serius ini lebih panjang dari komen sebenarnya haha).

Saya akui saya berjalan sekarang. entah bergeser atau berpindah saya tidak tahu. yang saya ketahui, saya sudah benar-benar BERPINDAH sekarang. pindah dari tempat kerja yang dulu, berpindah dari hati yang dulu. saya berjalan? iyah, saya sudah berjalan sekarang. tetapi apakah perjalanan saya membuat saya sudah benar-benar berpindah? saya sudah berjalan ke tempat lain tetapi maksud saya ini adalah saya masih terus berjalan. saya tidak msu setelah saya mengambil keputusan besar, saya berpindah tetapi saya mau terus berjalan. saya adalah manusia yang tidak pernah puas. ini bisa jadi pisau bermata dua bagi saya.

Selalu iri pada apa yang orang lain punya dan tidak mensyukuri apa yang saya punya sekarang. simple rules, hard to ignore, easy to do it.

Apa arti move on bagi anda? kalau menurut saya, move on itu adalah ketika kamu merasa berjalan di tempat sedangkan semua orang di sekitar kamu sudah berlari. ketika kamu merasa seperti itu, itu tandanya kamu HARUS move on. got it?

You left behind...

Lucunya semua orang pasti akan merasa demikian, di pandangan saya sebagai orang yang tidak pernanh puas, saya akan selalu merasa berjalan di tempat sedangkan semua orang berlari. aneh!

Susah memang merumuskan ini. ketika saya pergi jauh kemudian ketika saya menoleh ke belakang, semua orang terlihat berlari. ketika saya balas berlari kencang, logika saya menentangnya dan membalas 'you have your limits novie'. dan sedetik kemudian, saya menyerah dan tetap berjalan meski tertatih-tatih.

Saya menganggumi setiap detik proses dan chapter yang terjadi di hidup saya. segala proses saya harus bertemu dengan teman-teman yang memang saya takdirkan untuk bertemu dan berpisah. melepas kepergian teman-teman yang satu persatu pergi keluar kota, melepas pergi teman-teman kost-an saya yang tercinta, melepas pergi teman-teman ketika wisuda bersama dan yang paling berat kini (dan mungkin yang terbaru) melepas pergi teman-teman sekantor saya yang dulu (whosaahhh...). one of the best chapter in my life. i'm telling you, it's not the matter of my selfish thing or whatever, ini permasalahannya ketika apa yang kamu lakukan sudah di luar logika atau make sense. saya percaya keseimbangan hidup. ketika sesuatu sudah mengalahkan logika semisal dalam mencintai pria/wanita atau melakukan pekerjaanmu, itu berarti ada yang tidak beres dan tandanya kamu harus move on. got it? (kalau susah dimengerti ya sudahlah ini hanya keruwetan pikiran saya).

Ketika sesuatu sudah di luar logika saya, itu menandakan saya harus move on. simple rules again! menurut saya itu. kalau ditanya definisi di luar logika adalah ketika saya memberikan semua yang terbaik dari saya tetapi saya tidak mendapatkan semua yang terbaik. itu berarti ada yang tidak beres. apakah saya egois atau tamak? atau mungkin saya tidak sabaran? semua yang terbaik datang pada waktu yang tepat kata orang. tetapi saya tidak cukup naïf untuk tidak berkata jujur. ada kalanya kamu mendapat bisikan dari langit (halah) atau feeling yang terbisikan dari Tuhan bahwa it's not going anywhere unless you move on.

Kamu tahu BANYAK orang di luar sana yang menasehati dan memberi masukan ketika kamu tahu kata-kata mereka tidak bisa didengarkan dengan 1 kuping saja, itu pertanda dari alam meneriakkan kata ‘MOVE ON!!!’

Semua orang memiliki berbagai versi problems dan batasan move on-nya. Seperti pula saya. Dan ketika kata-kata ini menyembur keluar berupa susunan padu padan kata di ‘angkringan’ ini, itu berarti ada sesuatu yang saya pikirkan. Saya tidak cukup naïf untuk tidak berkata jujru di sini. Meski versi saya saya sudah move on, tetapi tidak cukup tegar umtuk berpendirian teguh hahaha…

Saya mencintai semua yang terjadi di hidup saya dan yang pernah saya miliki atau sampai sekarang saya dapat. Tetapi saya tekankan di diri saya bahwa ini hanya sementara. Tidak akan berlama-lama. Maka saya harus terus berjalan dan move on. Berjalan yang berpindah untuk jadi yang lebih baik. Namun keraguan selalu datang menghampiri. Keraguan kemarin dan hari ini adalah apakah saya tetap berpindah sekarang di kala semua orang sudah berlari (pertanyaan egois ini kembali muncul)? Bukan mengenai pekerjaan saja tetapi perihal aktualisasi diri dan cita-cita saya.

Sekarang yang bisa saya lakukan adalah memberikan yang terbaik dari saya. semua ada waktunya. i'm pretty sure of it. tidak perlu cepat-cepat. saatnya diri ini tidak ditentukan target. bernafas sebentar. buka mata dan telinga lebar-lebar. tampung semua yang kamu sukai, inginkan atau bahkan tidak kamu inginkan. atur strategi. di kala yang tepat, jalan itu akan terbuka (for god sake, hanya saya dan Tuhan yang tahu apa yang saya maksud haha). The end of the story yeah!!!

18/03/2011
Novie
yang berpacu dngan waktu dan ambisi

Thursday, January 20, 2011

Batu

Ada batu di sana. Batu besar menghalangi jalan Hampir satu tahun berjalan tetapi batu itu tidak mengecil atau bahkan menghilang. Batu itu justru malah kian membesar. Kubawa batu itu kemana aku pergi, kemana aku bergerak.

Semua orang memiliki batunya sendiri. Ada yang bisa menyembunyikannya di sakunya, ada yang bisa menentengnya. Sepuluh kilo pun hanya terasa beberapa gram saja di tangannya. Tetapi kenapa saya tidak mengindahkan ‘batu’ itu?

Ada apa dengan saya? Ditempa saya sering, dibanting juga tidak sedikit. Tetapi saya tidak pernah belajar menghadapi lingkungan baru sehingga batu itu terus ada dan tampak atau bahkan transparan sehingga semua orang bisa melihat.

Hinaan, cacian, amarah, penolakan sudah saya dapatkan. Tetapi kenapa saya tidak juga pintar menyembunyikan batu itu. Batu itu sekarang sudah memenuhi pikiran, bahu, dan hati saya.

Tidak juga mengecil
Tidak juga hilang
Tidak juga nertambah tingan

Justru semakin besar
Semakin terlihat
Dan semakin banyak

Apa yang salah dalam diri saya?
Apakah saya cukup bodoh, tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun.
Ini hanya palu kecil yangs sedang menempa batu saya, kemudian saya oleng, kehilangan keseimbangan dan goyah.

Saya hanya bisa diam, tidak bisa berpikir, kemudian tidak bisa melakukan apa-apa.

Ada batu di sana, ada ketakutan di sana. Ketakutan itulah yang menjadi batu terbesar. Ketakutan dan beban itu masih ada di sana.


21/1/2011
Novie

Tuesday, November 16, 2010

Namanya Novi Tanpa 'E'

Namanya Novi tanpa huruf 'e' di belakang namanya. Gadis berjilbab ini menjual soto babat di salah satu tempat makan. "Soto babatnya satu mbak," kata-kata andalan teman saya setiap mampir ke warungnya. Orangnya supel, lucu dan ramah. Setiap mengantarkan sotonya ke pelanggan, ia melayani kecerewatan pelanggan dan juga mengajak ngobrol mereka.

Apa yang menarik darinya sehingga saya mau menceritakan dia?

Dia lucu. Sangat lucu. Dan kita punya beberapa kesamaan... Namanya sama-sama novi. Ulang tahunnya jatuh pada tanggal ini yang ke 19. Dan saya besok untuk umur 22 tahun. Dan dia juga punya kakak perempuan. Bernasip sama dengan saya, ia memiliki muka boros dibanding kakaknya. Dan anehnya saya merasa kita sama-sama centil hahaha. Karena make up cukup tebal selalu ada di mukanya yang hitam manis. Yah, dia manis, ditambah lagi dia suka tersenyum.

Tapi kata teman-temannya, kita berbeda! Beda nasip hahahaha...

Tepat kemarin saya sedang asyik makan dan mengobrol dengan teman saya. Dia mendekat ke saya dan mengajak saya ngobrol. Dia cerita kalau kemarin dia ditimpuk tepung 1 kilo sama teman-temannya. Padahal dia belum ulang tahun kemarin.

Lucunya, dari sepanjang obrolan kita yang ngalor ngidur, dia ujung-ujungnya curcol hahaha. Begini nih curcolnya.

Novi: "Saya lagi sakit nih mbak. Saya baru diduain mbak. Masih mending ma cewek. Ini sama cowok mbak."

Novie: (nelen ludah)

Novi: "Iyah mbak. Sakit deh rasanya. Kemarin pas lagi jalan saya ngeliat dia ma cowok lagi begituan..."

Novie: (mangap)

Novi: "Dia tipu saya buat temen-temen dia mbak novie. Padahal saya udah sayang banget mbak." 

Novie: "Emang udah berapa lama ma dia?" (Thank's god gue bisa ngomong dan menerima kenyataan kalo dunia ini memang sudah tidak waras di semua lapisan masyarakat)

Novi:"1 tahun"

Novie:"Lah emang nggak berasa aneh?" (Pertanyaan yang kemudian saya sesali karena matanya mulai terlihat berkaca-kaca. Bodohnyaaa guee.. TT_TT)

Novi:"Nggak mbak. Dia biasa ajah. Sama ajah kayak cowok-cowok yang lain"

Novie:"Oooh..."(Tambah bodoh, nggak bisa ngomong apa-apa)

Novi:"Iyah sering lagi ketemu dia. Rumahnya deket ma rumah saya. Selalu minta maaf. Dia bilang dia dulu mau coba ma saya. Kan udah lama masa iyah nggak sayang juga ma saya sekarang. Dia bilang gitu."

Novie:(garuk-garuk kepala, nih ketombe nggak pas bgt datangnya)

Novi: "Mendingan dia ma cewek deh mbak kepergoknya. Ini mah sakit banget kalo ma cowok"

Novie: (mulai berontak) "Lah mbak menurut saya mendingan sama cowok mbak. Berarti error terletak pada kepala dia. Kalo cewek, kitanya yang tengsin mbak. Pasti tuh cewek, lebih, lebih dari kita. Jadinya kita mikir errornya di kita"

Novi:"Nggak mbak saya lebih rela dia ma cewek. Kasian ma dia kalo gini jatohnya mbak"

Novie: "Ooooh.. Masih ngerasa kasian yah?"

Novi: (Mengangguk)

Novie:"Trus sekarang gimana? Masih? Trus maafin?"

Novi:"Yah nggak tahu mbak. Tapi yah maafin. Tapi yah nggak mungkin lagi."

Novie: .....



Nama boleh sama. Centil juga sama. Tapi perihal kebaikan, dia jauh lebih baik....

Obrolan saat itu pun harus terputus karena sudah malam. Pesan moral yang saya dapat dari novi adalah kamu tidak tahu dimana, kapan, sama siapa kamu belajar kebaikan. Saya juga tidak tahu bahwa saya di malam itu harus belajar kebaikan dari seorang yang tidak saya kenal.

Selamat ulang tahun hari ini Novi tanpa 'e'!!!!


16/11/10
Novi dengan huruf 'e'

Yang Sedang Membangun Bentengnya Lagi

I WANT MY NORMAL LIFE BACK!!!

I WANT TO BREAK FREE!!!

Teriak saya kuat-kuat

Saya mau rasa aman dan benteng itu ada lagi!!!

Kemana benteng itu? Benteng itu sudah hancur maka hancurlah semua apa yang ada di benteng itu. Sekarang saya sedang membangun reruntuhan dan menyusunnya kembali. Apakah bangunan itu akan sama seperti dulu?

Saya mau tempat dimana semua berjalan seperti dulu. Jauh sebelum ada yang menyakinkan saya untuk meruntuhkannya. Rasa aman, dicintai, kepastian. Namun sekarang, benteng yang saya buat bertahun-tahun hancur seketika dalam hitungan detik...
Hancur pulalah semua yang ada di dalamnya...

Bagaimana caranya membangun benteng dari awal lagi?

Sedangkan membuatnya saja butuh kepedihan dan waktu bertahun-tahun
Haruskah saya lerbih pedih lagi dari sekarang?



16/11/10
Novie
Yang sedang membangun bentengnya lagi

Sunday, November 14, 2010

Boleh kan?

Entah kenapa hari ini saya ingin sekali berlayar. Mengarungi laut yang luassssss dan sejauh mata memandang hanya terlihat laut itu saja. Ingin sekali.

Mulai membayangkan saya sedang mempersiapkan perlengkapan dan pembekalan. Dari pakaian, makanan, dan peralatan memancing. Semua saya masukkan di ransel orange saya. Tak lupa saya bawa botol minum yang saya kalungkan di leher. Saya siap dengan kaos lebar dan celana pendek saya. Rambut ekor kuda dan sendal gunung juga jangan sampai lupa. Maklum identitas diri. Bukan golongan feminim saya itu hehehe...

Berangkatttttttttttt.....

Kapal layar telat siap. Panjangnya kira2 belasan meter dengan dominasi warna coklat dan merah di dindingnya. Di bagian dermaga ada 2 orang yang berjaga. Satu nahkoda, satu lagi asistennya. Di bagian tengah ada ruangan kecil yang berisi tangga menuju ke kamar bawah. Terdapat 2 single bed atas bawah di situ. Kemudian ada jendela, meja kecil dan lampu minyak. Aromatherapy lavender memenuhi ruangan. Di sisi bagian belakang kapal ada tempat duduk berjejer menghadap laut bagian belakang kapal. Saya mau tempat duduk memanjang untuk merentangkan kaki. Ala kursi pantai. Serunya, kursi ini bisa sekaligus alat pijat refleksi di seluruh badan. Boleh kan? Namanya juga halusinasi saya.

Kalau disimak baik-baik, saya INGIN kapal saya ini menyerupai ikan koi. Panjang dan cantik. Dengan ekor kapal yang memanjang ke atas, seolah-olah dia sedang berenang.

Masih di imajinasi saya, saya berencana menghilang 10 hari. Tanpa alat komunikasi 1 pun dan satu orang pun takkan saya beritahu dimana saya sekarang.

Saya mulai menjejakkan kaki di lantai kayu kapal. Suara menderit langsung terdengar. Maklum kapal tua. Angin kencang langsung mengibaskan poni dan ekor kuda saya. Ahhh segarrrr... Saya pun langsung menaruh ransel kesayangan dan minuman di kamar bawah. Mendadak saya merasa mual karena lantai yang saya pijaki mulai bergerak. Ahhh... kapal sudah jalan ternyata.

Saya berlari, menaiki tangga cepat2, mencari tempat duduk di bagian dek belakang kapal. Kemudian saya duduk sambil menselonjorkan kaki. Kebetulan cuaca waktu itu berawan jadi saya tak perlu pakai kacamata hitam. Saya menarik napas dalam-dalam. Tidak terganggu dengan bau amis laut. Masih terus menikmati laut yang tenang dan berwarna biru. Dengan burung-burung terbang melewati bagian atas kapal. Kapal terombang-ambing tenang ketika berlayar. Ahhh imajinasi saya memang berlebihan...

Selesai menikmati 'kecantikan semesta' ini. Saya berinisiatif untuk merendam di dalamnya. Dengan air laut transparan kita bisa lihat semua ikan di dunia ini. Memegangnya, memeluknya, mengendarainya. Bermain sepuas hati. Di imajinasi, saya pasti tahu cara berenang. Ahhh enaknya berandai-andai hihihi...

Loh apa ini, tiba-tiba ada tetesan air di kepala saya. Gerimis rupanya. Tidak besar dan sering. Dengan angin laut yang tak terlalu dingin. Boleh kan? Imajinasi kan berawal dari tidak-masuk-akal kemudian diakhiri dengan kerutan dahi seseorang ketika kamu menceritakannya. Dibilang tidak waras bisa jadi resikonya.

Ooh saya lupa saya kan bawa perlengkapan memancing. Tapi sedang tak ingin. Ehmm... Lebih enak tidur saja. Tidur sambil tersenyum. Seperti tak ada satupun orang yang melihat. Ketenangan penuh saya dapatkan. Beban dan segala persoalan saya kubur jauh di dasar laut. Saya rentangkan tangan, menciumi aroma segar angin dalam-dalam dan tersenyum.

Tersenyum bahagia puasss...

Mendengarkan musik 'afro-america' saya..

Berteriak sekencang-kencangnya

'Bangunnnnnnnnnnnnnnnn!!!!'

Loh suara apa itu...

Mendadak saya melihat wajah semua kawan terbaik saya di atas awan. Mereka berteriak sesuatu yang saya tak dengar. Saya membaca kata 'bangun' dari bibir mereka. Ahhh tapi saya lagi seru nih...

'Bangunnnnnnnnn!' teriakan mereka.

.....




Saya bingung.

Kenapa saya disuruh bangun ketika di mimpi, saya masih sadar itu hanya imajinasi.

Saya hanya berlari. Bukan menghindar. Berlari 'maju' dengan cara saya sendiri. Cuma saya masih ingin di kapal ini dengan wajah kalian di atas awan.

Boleh kan?

Saya pun dapat kerutan dahi dan hinaan 'tidak waras'


14/11/10
Novie

Firasat

GUBRAK!!!!!

Pantat ini masih perih rasanya ketika berbenturan dengan lantai. Kupaksa mata ini terbuka. Kugelengkan kepala pelan-pelan mencari secercah informasi dimana aku berada sekarang. Gorden-gorden panjang mengintip sedikit-sedikit ketika tertiup angin. Tempat tidur berjejer rapi tak ditempati. Suara hening menyeruak. Tak jelas mata ini menangkap cahaya karena kondisi ruangan yang remang. Hanya satu lampu pijar hampir tewas menyinari ruangan ini.

Aku bangun dari lantai dengan susah payah. Baru sadar aku ternyata terjatuh dari kursi tanpa lengan. Oh... aku tertidur tadi rupanya. Kulihat ibuku masih tertidur lelap di ranjang pasiennya. Ternyata aku tertidur ketika menunggu ibuku terlelap karena pengaruh obat.

Kubereskan pakaianku dari debu di lantai. Pantat ini masih nyeri rasanya ketika aku mendengar suara teriakan-teriakan. Terlintas di benakku itu hantu yang tersesat di dua dunia atau malaikat pencabut nyawa yang menjemput pasien-pasien ini. Ah jaman begini.. Kemudian aku melihat ibuku. Ia masih terlelap rupanya.

Kuberanikan diri untuk menerima kenyataan. Kusingkirkan beberapa helaian rambut ke belakang telingaku. Kupersiapkan mental yang hanya sebesar buah sesawi ini. Mata ini pun mulai terbiasa dengan cahaya remang ini.

"Setan kamu! Dasar setaann! Matilah kau! Setan!!! Setaaaaaannnnn!!!" Kemudian jeritan suara wanita itu semakin terdengar jelas. Berulang kali ia meneriakkan kata terakhirnya dengan sangat lantang. Suara gaduh pun terdengar. Langkah kaki tergesa-gesa. Seseorang baju serba putih layaknya perawat di rumah sakit kemudian menghambur keluar. Suara pintu terbanting pun terdengar. "Ibu, ini sudah malam bu. Ayo tidur-tidur."
Wanita paruh baya itu tetap berteriak sambil mengeluh kesakitan. Kulihat kaki kanannya sangat besar. Tempat tidurnya berada tidak jauh dari tempat tidur ibuku. Ia berada di pojok kanan sedangkan bangsal ibuku berada di pojok satunya lagi. Kami sama-sama berada di deretan kiri pintu masuk. Ada sekitar 10 bangsal di sini.

Semakin terlatih penglihatanku melihat apa yang terjadi. Wanita itu masih berteriak kepada pria paruh baya di sebelahnya. Ia mengeluh kesakitan namun tampaknya pria itu tak mau membantunya. Ia tetap memilih tidur. "Sudah bu, doa. Berdoa kemudian tidur" jawab suster itu berusaha menenangkan pasiennya. Profesionalisme kerja kurasa, mungkin dia tidak akan melakukannya bila jadi aku. Agak aneh suster ini kupikir. Tidak sebaiknya ia memberi wanita ini pil penahan rasa sakit atau pil penenang. Wanita itupun memaksa diri untuk terlihat tenang. Melihat keadaan normal kembali, suster pun keluar. Tetapi wanita itu masih tetap mengerutu dan menghujani suaminya dengan maki-makian.

Aku pun sudah bersiap-siap tidur dan pura-pura tidak terjadi apa-apa sampai wanita itu mengeluh kesakitan. Pria itu tetap tidak bergeser dari kursinya. Ia masih tertidur. Kemudian aku membayangkan bila itu ibuku yang berteriak kesakitan. Kuberanikan berjalan menghampiri wanita itu. Semakin jelas aku menerima kenyataan di depanku. Kondisi kaki ibu ini benar-benar parah. Kakinya sudah 2x lebih besar dari kaki normalnya. Banyak nanah yg hampir meletus rasanya bila aku terkan kuat-kuat. "Nak tolong ambilkan bantal itu, ini ibu nggak bisa gerak". Kuambil bantal itu trus kujejalkan di bawah kakinya agar ia nyaman. Ibu itu kemudian tersenyum. Tanda berterima kasih kupikir. Namun ada sesuatu yang tak asing dari senyumnya itu. Seperti senyum yang sering aku lihat di kaca. Tapi mungkin itu pikiran aku saja. Kemudian selang beberapa detik, aku melihat salah satu nanah di kakinya pecah dan tak berhenti-henti mengalir. Spontan tangan ini menahan aliran nanah itu. Tapi justru semakin banyak yang mengalir. Aku bingung. Ibu itupun semakin berteriak kesakitan. Aku takut itu gara-gara bantal yang aku taruh. Aku kemudian berlari mencari suster. Tidak ada. Panik. Akhirnya aku kembali ke ruangan tadi. Tapi apa yang aku dapati adalah ruang kosong. Serba putih. Tidak ada gorden tertiup angin, tidak ada tempat tidur berjejer, tidak ada ibuku yang terlelap, apalagi wanita yang berteriak-teriak. Kulihat nanah hijau wanita itu masih mengalir di tanganku. Tiba-tiba kakiku terasa sakit sekali kemudian nanah pun mengalir dari kaki kananku. Kepalaku mulai pusing. Sedetik kemudian aku tersadar...

Cahaya mulai memudar

Mata mulai terasa berat

Aku mengantuk

Sangat mengantuk

Sayup-sayup kudengar suara ibuku memanggil namaku. Tak peduli

Tapi aku sangat mengantuk. Aku mau tidur. Capek. Capek sekali..

Lemas. Aku mau tidur!



10/11/10
Novie